AlexiusLetlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 5275 kali


Artikel
Jumat, 19 Februari 2016
Roma 14: 17
GPIB DI TENGAH PERGUMULAN DAN TANTANGAN SOSIAL LOKAL HINGGA GLOBAL: PERSPEKTIF PASTORAL
Pdt. Alex Letlora

GPIB DI TENGAH PERGUMULAN DAN TANTANGAN SOSIAL LOKAL HINGGA GLOBAL: PERSPEKTIF PASTORAL Pendahuluan

Hidup dan perkembangan Gereja di dunia adalah di tengah konteks masyarakat. Perubahan konteks masyarakat juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Karena identitas tiap individu atau sebuah jemaat dipengaruhi oleh konteks masyarakat, yang di dalamnya juga dipengaruhi oleh perubahan di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya masyarakat. Antara konsepsi identitas jemaat dengan konteks masyarakat setempat terjadi hubungan dialogis yang saling dipengaruhi dan mempengaruhi.

Gereja bukanlah monasteri tempat para biarawan, rahib dan pertapa mengasingkan diri dari dunia, tapi ia merupakan sebuah organisme yang hidup yang harus memberi cahaya illahi di tengah-tengah berbagai perubahan di dunia. Karena itu gereja seharusnya bukan hanya menjadi lembaga pasif yang hanya menerima dampak arus globalisasi, terlebih dari itu gereja dituntut untuk secara dinamis, kreatif mewujudkan pelayanannya di pelbagai perubahan dunia.

Dalam pandangan Banawiratma, keselamatan bukan hanya keselamatan rohani saja, melainkan menyangkut keselamatan manusia dengan dimensi jasmaniah dan sosialnya (1991: 49). Mengacu pada pemahaman yang demikian maka dalam setiap perubahan, berita keselamatan melalui Yesus Kristus yang hadir dan bertindak akan bermuara pada gereja 'fungsional`. Perubahan yang terjadi di semua lini kehidupan menjadi kenyataan yang harus ditanggapi oleh gereja dalam kerangka mewujudkan panggilan dan pengutusan. Gereja di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi tantangan yang meningkat baik kualitas dan kuantitas, baik internal dan eksternal.

Salah satu perubahan mendasar yang kini dihadapi oleh gereja adalah perubahan dalam tatanan keluarga. Roh industrialisasi dan urbanisasi yang kuat telah menghadirkan perubahan dalam sistem nilai keluarga. Renggangnya hubungan antar manusia dalam keluarga yang mengalami keterasingan adalah cermin dari masyarakat. Pandangan masyarakat modern bahwa keluarga ideal adalah adalah keluarga yang mampu memasuki iklim kompetitif dengan ritus-ritus kesibukannya telah menempatkan gereja pada posisi yang menantang dan sangat strategis. Artinya ialah dalam fenomena masyarakat modern ini sesungguhnya diharapkan adanya peran gereja yang menjadi alat Tuhan menghadirkan berita sukacita ditengah-tengah meningkatnya frustrasi dalam keluarga.

Hadirnya GPIB di bumi Indonesia hingga pada usia 67 tahun bukanlah hal yang sederhana ketika konteks kehadirannya adalah jaman yang berubah cepat. Relevansi kehadiran GPIB dalam konteks ini tetap dibingkai oleh kemauan kuat menjadi kawan sekerja Allah (1 Kor.3:9) yang terus berupaya menghadirkan kehendak Kristus yakni kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (band. Roma 14:17). Dengan pemahaman yang demikian maka seluruh argumentasi yang dibangun di luar dari itu memerlukan koreksi yang akurat dalam kerangka menghadirkan perilaku yang bertanggungjawab secara vertikal maupun horizontal.

Gereja (GPIB) tidak hadir di awan-awan tetapi berjumpa dan bergumul dengan realitas yang terjal dan menukik namun tetap dalam genggaman Yesus Kristus. Gereja ini harus terus memberi tanggapan serius atas berbagai perubahan yang terjadi dan bahkan mengalami derita untuk mewujudkannya. Hal ini tidak terlepas dari kondisi sosiologis dimana gereja hadir dan berjumpa dengan keberagaman yang mengelilinginya. Dalam perspektif demikian maka eksistensi GPIB tidak bertumpu pada paham fatalism tetapi memberi pernyataan teologis yang kuat bahwa Allah terus berkarya memperbarui ciptaan-Nya dengan melibatkan Gereja (baca: GPIB). Dititik inilah GPIB tampil dengan keunikannya sebagai sebuah gereja yang heterogen dan terikat pada visi yang sama yakni menjadi gereja missioner. Penetrasi perubahan yang dihadapi oleh GPIB tetap menjadi realitas yang perlu dibaca sebagai tanda jaman dan tidak melemahkan kehadirannya.

1. GPIB Dan Misi
PKUPPG (2010:6) kemukakan bahwa setiap warga gereja dipanggil dan diutus oleh Yesus Kristus dan melaksanakan panggilan dan pengutusan tersebut dengan setia di tengah masyarakat dan sekaligus melaksanakan misi gereja (Roma 15: 1-8). Panggilan dan pengutusan yang dilaksanakan dengan setia berarti tetap setia dalam berbagai perubahan sosial terjadi. Setia pada panggilan dan pengutusan dengan memberi tanggapan yang konstruktif adalah aspek penting dalam kehidupan bergereja. Hal ini berkaitan dengan tantangan yang harus dihadapi oleh GPIB baik secara eksternal maupun internal.

Secara eksternal globalisasi telah merangkul sekaligus memengaruhi semua aspek dalam kehidupan manusia secara saling terkait. Masalah-masalah ekonomi terkait timbal balik dengan masalah-masalah sosial, politik dan sebagainya. Dengan demikian, apapun alasan dan dampak yang dihasilkan oleh proses yang mendunia ini, ada ongkos yang sangat mahal yang harus dibayar oleh seluruh penduduk bumi ini (F. Mamahit, 2005: 263). Apa yang menjadi persoalan di Timur Tengah (Israel) dengan cepat melalui tekhnologi informasi akan berdampak pada gereja di Indonesia sebagai isu religious totalitarianism. Persoalan-persoalan global dengan dampaknya pada tataran local memperlihatkan bahwa dunia sudah mengalami perubahan besar yang bisa berdampak positif dan negative. Dengan demikian, fenomena globalisasi adalah keterhubungan seluruh pelosokdunia pada tingkat pengembangan (extensity), penekanan (intensity), percepatan (velocity) dan pengaruh (impact) yang luar biasa, yang belum pernah ada sebelumnya

Christianto Wibisono (2012: 35) mengemukakan bahwa pertarungan antara demokrasi yang humanis dan teroris yang democide, menunjukkan bahwa perebutan pengaruh akan terus berlangsung secara global. Dapat dikemukakan bahwa peristiwa terorisme di Sarinah adalah salah satu contoh akumulasi pengaruh terorisme global yang demonik.

Di sisi lain kesetiaan kepada panggilan dan pengutusan juga berhadapan dengan kerusakan alam secara massive sebagai akibat praktek penambangan liar dan tidak terkendali sebagaimana terjadi di pulau Buru. Hal ini dianggap halal atas nama perbaikan taraf ekonomi yang berujung pada praktek korupsi disemua pemangku kepentingan. Gereja perlu menjaga identitasnya agar tidak menjadi gereja yang menyangkal dunia (world-denying church) tetapi menjadi gereja yang melibatkan diri dalam masalah-masalah dunia (world-engaging church). Maksudnya ialah dengan kenyataan yang demikian gereja tidak saja menjadi penonton peristiwa tetapi mengambil peran yang berarti di tengah sebuah peristiwa.

Sementara itu secara internal dapat dikemukakan bahwa persoalan-persoalan yang mengemuka sebagai kendala internal adalah kurangnya kepakaan terhadap lingkungan dan masalah-masalah sosial (PKUPPG, 2010: 11). Terjebaknya kegiatan pelayanan gereja yang rutin dan mekanis akan menghadirkan komunitas yang individualis, transaksional dan konsumtif. Dalam konteks demikian pengembangan sumber daya insani menjadi keniscayaan sehingga tujuan teologi tidak hanya berupa berpikir benar atau ortodoksi tetapi terutama bertindak benar atau ortopraksis (Bevans, 2010: 221). Gereja yang aktual adalah gereja yang mampu menjawab kecenderungan dalam masyarakat dengan menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap warga gereja (keluarga). Keluarga adalah tempat menanamkan nilai secara intensif, berpengaruh dan mendasar dalam mendidik kehadiran makna orisinil warga gereja dimasa depan. Menanggapi berbagai perubahan itu gereja perlu mengambil langkah-langkah strategis sebagai berikut :

1. menyerukan agar umat disemua tingkat kehidupannya menyadari masalah-masalah ini, merefleksikannya dan mengambil kebijakan-kebijakan yang diperlukan, baik di tingkat jemaat maupun di tingkat sinodal.
2. memberdayakan setiap warga jemaat untuk dapat menjawab berbagai pergumulan hidupnya dalam terang kebenaran Firman Allah.
3. mewujudkan pola pembinaan yang berkesinambungan dan terarah agar dapat memperkaya setiap keluarga untuk mengalami pertumbuhan secara berkualitas.

Perubahan memang terus terjadi namun gereja yang mampu menanggapi perubahan adalah gereja yang memahami hakekat dan makna panggilan - pengutusannya. Gereja bukan Mall yang dibangun dengan sistem pendingin dan berlantai marmer. Gereja bukan Mall yang hadir dengan semangat mengeksploitasi semangat kekurangan pribadi. Maka bergereja artinya tidak hadir dengan orientasi kepada diri sendiri tetapi memberi makna dalam komunitas dengan tetap menjaga diri untuk menghadirkan semangat "company". "Company" yang berasal dari bahasa Latin 'cum panis` artinya memecah roti bersama (Wijaya, 2010:102).



2. GPIB dan Pemberdayaan Warga Gereja/Keluarga
Bertolak dari semua uraian di aas dapat dikemukakan bahwa aktualisasi tanggapan gereja terhadap berbagai perubahan dengan memahami beberapa hal berikut ini:

2.1 Interpretasi yang bersifat lintas disiplin ilmu merupakan hal utama untuk mengurai berbagai isu yang perlu ditanggapi oleh gereja secara jernih. Groome (1998: 145) mengemukakan bahwa dengan berdialog maka terjadi undangan bagi setiap orang untuk terlibat dalam diskusi yang mengerucut pada penemuan bersama tentang kebutuhan bersama. Hal ini penting agar kehadiran gereja senantiasa terbuka terhadap berbagai gagasan yang bermuara pada kesepakatan bersama sebagai hasil dari pandangan yang beragam. Dialog berarti komunikasi dua arah. Secara teologis dialog dapat dipahami berdasarkan Missio Dei, Allah mengutus Yesus Kristus untuk berkomunikasi dengan manusia (dialog). Allah menjadi manusia (inkarnasi), mengungkapkan bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia. Meskipun demikian, dialog bukanlah tujuan akhirnya, melainkan rekonsiliasi diri-Nya dengan manusia. Dalam terang ini, orang Kristen dipanggil untuk berinisiatif dalam mewujudkan rekonsiliasi konflik agama, bahkan rekonsiliasi persoalan apapun dalam kehidupan bersama dalam suatu komunitas. Allah mengutus dan menempatkan setiap orang Kristen untuk menjadi agen rekonsiliasi Allah dalam dalam dunia (Mamahit, 2005:21)
2.2 Pemberdayaan warga gereja agar piawai dalam menanggapi realitas yang berubah dapat dimulai dari keluarga. Sebagai organisme atau system sosial maka keluarga mengandung arti kualitas proses hidup, kesatuan fungsional yang memiliki kemampuan menyesuaiakan diri pada perubahan dan krisis (Clinebell, 2002: 372). Bertolak dari pemahaman demikian maka sebagai organisme di dalam keluarga terdapat daya untuk hidup. Daya hidup inilah yang terus dikembangkan sebagai daya kolektif. Maka pemberdayaan sumber daya insani warga gereja akan memiliki daya hidup yang semakin besar ketika berinteraksi dengan keluarga. Gereja dengan daya hidup yang dimilikinya akan mampu untuk menjadi 'jembatan` antara gereja yang ideal dan gereja yang aktual.
2.3 Olson dan Leonard (1990: 116) menyebut keluarga dengan 'commuter families` untuk menggambarkan suami-istri yang bekerja tanpa kehilangan kendali atas relasi mereka dan karir. Pernyataan ini memberi penegasan bahwa suami-istri dengan kemampuan mengelola berbagai aktifitas yang padat tetap memiliki ruang interaksi yang sehat. Pernyataan ini sekaligus memberi keyakinan bahwa aktifitas perempuan sebagai seorang pekerja di luar rumah bukanlah penghalang dalam menata keluarga jika dapat memahami peran dan fungsinya secara positif. Dalam konteks gereja maka peran perempuan yang semakin kompleks haruslah mendapat apresiasi. Artinya dalam kehidupan persekutuan di gereja, perempuan memiliki ruang karya pelayanan yang sama. Maka seluruh peran warga gereja dapat terus mengalami penataan bagi peningkatan kualitas panggilan dan pengutusan.

Kesimpulan
Seluruh pemaparan di atas dapat dikemukakan sebagai bentuk kesadaran gereja akan perubahan dan aktualisasi kabar sukacita yang melibatkan semua potensi di gereja. Tantangan baik lokal maupun global hanya dapat ditanggapi secara positif dengan memperhatikan peningkatan kualitas warga gereja yang terus mengalami pendampingan. Artinya peran serta gereja dalam kehidupan warganya tidak berhenti pada ritualisme saja tetapi juga di area praksis.
Warga gereja yang sungguh-sungguh menghayati panggilan dan pengutusannya akan selalu aktual dalam tanggapan secara pribadi maupun komunal.

Daftar Pustaka
1. Christianto Wibisono, Gerhana Hati Nurani, Kompas Gramedia, Jakarta, 2012
2. J.B Banawiratma, Teologi Fungsional-Teologi Kontekstual, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 1991.
3. R. Olson - Joe Leonard, Ministry With Families in Flux, John Knox Press,
Kentucky, 1991.
4. Yahya Wijaya, Altar di Tengah Pasar, BPK Gunung Mulia, 2010.
5. Stephens B. Bevans, Teologi Dalam Perspektif Global, Ledalero, Maumere, 2010
6. Thomas H. Groome, Sharing Faith, Wipf and Stock Publishers, Orlando, 1998


7. J. Mamahit, Evangelical Church and Social Transformation, VERITAS
6/2 (Oktober 2005)




Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Artikel:

Jumat, 10 Nopember 2017
YESUS MEMANG POPULER NAMUN TIDAK POPULIS

Selasa, 31 Oktober 2017
ILUSI, DELUSI DAN GPIB - Sebuah Refleksi Di Usia Ke-69

Rabu, 28 September 2016
PERANAN PASANGAN DALAM PELAYANAN GEREJA

Senin, 19 September 2016
REMBRANT, YESUS, KITA

Kamis, 25 Agustus 2016
MEMAKNAI PERAN SEKTOR PELAYANAN DALAM PERSPEKTIF KEBUTUHAN KELUARGA.

Kamis, 25 Agustus 2016
PERAN KELUARGA YANG MEWUJUDKAN MISI ALLAH DALAM PERSPEKTIF KEHADIRAN GEREJA

Kamis, 02 Juni 2016
LGBT DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Jumat, 11 Desember 2015
MEMPERLUAS MAKNA KEHADIRAN SUAMI-ISTRI

Jumat, 11 Desember 2015
10 Hukum Perkawinan Kristen

Selasa, 13 Oktober 2015
KEPEMIMPINAN KRISTEN

Arsip Artikel..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat Immanuel, Depok. Melayani selama 27 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Artikel:

    Last Searches:

    Kategori Utama: Artikel (39), Catatan Refleksi (68), Download Materi (2), Khotbah (151), Photo Keluarga (34)