AlexiusLetlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 5089 kali


Artikel
Kamis, 02 Juni 2016
Maleakhi 2:14
LGBT DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN
Pdt. Alex Letlora D.Th

LGBT DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN
Pendahuluan.

Lembaga keluarga yang didasari perjanjian antara suami-istri tidaklah bersifat statis. Berbagai perubahan yang terjadi di sekitar kehidupan suami-istri juga turut memberi pengaruh terhadap cara pandang mereka. Lembaga keluarga dibentuk Allah bagi manusia, maka kita dapat mengatakan bahwa perkawinan adalah sesuatu yang baik di mata Allah (Richards, 1985: 433). Perkawinan dan membangun sebuah keluarga bukanlah dosa, bahkan kita dapat mengatakan bahwa perkawinan yang diadakan Allah bagi manusia bersifat kudus. Bertolak dari pemahaman demikian maka manusia yakni laki-laki dan perempuan memiliki hidup yang bersumber dari Allah sehingga kehidupan yang dimiliki manusia senantiasa bermakna dalam kehadiran di hadapan Allah.

Allah menjadikan perempuan dari tulang rusuk laki-laki sebagai sebuah penyatuan antara laki-laki dan perempuan dengan sifat mutualistik. Dalam kisah penciptaan manusia, Allah yang berinisiatif, sehingga penciptaan manusia mengawali sebuah tugas yang dipercayakan kepada manusia. Dalam hal inilah relasi Adam dan Hawa merupakan relasi yang diarahkan untuk memenuhi, memanfaatkan dan memelihara alam semesta dalam sikap taat dan patuh pada-Nya.

1. Tentang Perkawinan

Perkawinan adalah peristiwa penting dalam kehidupan umat Israel karena melalui perkawinan terbentuklah keluarga. Peristiwa di mana laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam ikatan perjanjian yang tidak hanya berdampak pada suami-istri tetapi juga di bidang lainnya. Misalnya menurut Robert Setio (2015: 13) penambahan jumlah penduduk dapat menjadi penting dalam mengelola ladang pertanian. Maka kelahiran anak disambut dengan gembira sebagai lawan dari kemandulan merupakan masalah besar (Setio, 2015: 13).

1.1 Menurut Perjanjian Lama
Laki-laki dan perempuan yang dipersatukan dalam perkawinan adalah persekutuan yang istimewa. Dalam konteks suami-istri keduanya bukanlah unsur yang bertentangan melainkan unsur yang saling melengkapi seperti dikemukakan oleh Worthington Jr, (1989:28) bahwa manusia diciptakan sebagai persekutuan yang intim dan produktif sehingga secara alamiah itulah keberadaan manusia. Artinya manusia tidak dapat menanggalkan hakekatnya sebagai manusia yang diciptakan dengan struktur yang responsif: ia dimaksudkan menjawab sabda Allah yang menyapanya (Dister, 2004: 98). Maka sebuah persekutuan antara suami-istri dalam lembaga keluarga sejatinya merupakan tanggapan atas cinta kasih Allah. Cinta kasih yang dinyatakan dalam damai sejahtera yang dalam arti absolut mencakup segala sesuatu yang berupa kebahagiaan manusia seluruhnya dan seutuhnya (Dister, 2004: 138).
Persekutuan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan merupakan peristiwa yang istimewa. Letak keistimewaan sebuah perkawinan bertumpu pada hubungan perjanjian yang kudus sebab Allah terlibat di dalamnya. Janji dinyatakan dalam pengakuan bahwa pernikahan mereka dilaksanakan di hadapan Allah dan sesama. Kedua mempelai mengaku dan menerima pasangannya untuk tetap mengasihi dalam kelimpahan dan kekurangan, waktu sehat maupun sakit dengan tetap menekankan kesediaan atau janji untuk hidup kudus sampai kematian memisahkan mereka.
Kata perjanjian (covenant) dalam Perjanjian Lama memperlihatkan keistimewaan hubungan yang terjadi di antara pembuat janji sehingga pengingkaran terhadap janji merupakan kejahatan. Hal ini bertolak dari makna perjanjian itu sendiri sebagai tindakan di antara dua pihak yang bermanfaat bagi keduanya dan berusaha memenuhi kewajibannya menjaga perjanjian tersebut. Sebagai contoh dikemukakan dalam Maleakhi 2:14 demikian:
Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

Samuelle Bacchiocchi (2001:23) mengemukakan bahwa penderitaan yang dialami oleh umat sekembalinya mereka dari pembuangan diakibatkan oleh ketidaksetiaan mereka terhadaap Allah. Ketidaksetiaan umat terhadap Allah diperlihatkan dalam ketidaksetiaan terhadap pasangan. Maka setiap penolakan terhadap istri seperjanjian adalah bentuk penolakan terhadap Allah. Tiga istilah khusus untuk istri dalam ayat 14 yakni istri masa mudamu, teman hidupmu dan istri seperjanjianmu menegaskan status istimewanya terkait suami demikian dikemukakan oleh Karman (dalam Setio dan Listijabudi (eds), 2015: 155).

Pada Maleakhi 2: 14 dikemukakan bahwa terdapat masalah dalam kehidupan umat setelah mereka kembali dari pembuangan. Tindakan Allah sebagai saksi sekaligus menunjukkan adanya peringatan terhadap suami yang tidak setia terhadap istri. Perjanjian menjadi penting dalam teks di atas sebab sebuah perkawinan senantiasa melibatkan Allah yang menjadi saksi. Istri seperjanjianmu, yaitu istri yang kepadanya suami mengikrarkan kesetiaan sehingga setiap upaya untuk tidak setia selalu menimbulkan permasalahan. Permasalahan yang muncul berkaitan erat dengan pemahaman tentang janji yang merupakan hal penting bagi suami-istri.
Pendapat di atas merujuk pada sifat khusus dan istimewanya sebuah pernikahan sehingga sekaligus memperlihatkan bahwa Allah tidak hanya menjadi saksi pada saat pernikahan tetapi untuk seterusnya (Karman, 2015: 143). Maka perjanjian antara suami-istri adalah perjanjian yang melibatkan Allah merupakan peristiwa penting berdasarkan hubungan perjanjian. Hubungan perjanjian yang dilandasi dengan kasih, memungkinkan janji menjadi bermakna dan tidak dimanipulasi. Hubungan perjanjian yang terjadi di dalam ikatan suami-istri adalah kudus karena Allah hadir sebagai bagian dari perjanjian.
Hal ini menegaskan bahwa mereka yang terikat dalam perjanjian harus mentaati isi perjanjian tersebut. Dengan memperhatikan makna perjanjian tersebut maka pada dasarnya suami-istri yang terikat dalam perjanjian senantiasa mentaati janji mereka. Artinya persekutuan suami-istri yang didasari dengan perjanjian adalah suami-istri yang merdeka untuk terikat dengan janji tersebut.
Dalam konteks pernikahan maka perjanjian yang dibangun antara laki-laki dan perempuan di letakkan dalam makna istimewa yakni menjaga dan mengamankan isi perjanjian tersebut. Dalam relasi demikian maka perjanjian bukanlah sebuah hukum yang bersifat menekan melainkan kesepakatan yang diterima dengan sukacita.
Relasi suami-istri bukanlah relasi atasan-bawahan tetapi sebuah persekutuan yang dipengaruhi makna perjanjian. Di sisi lain dapat dikemukakan bahwa relasi perjanjian ini bertolak dari inisiatif Allah dan bermuara kepada berkat kepada manusia yang dalam citra-Nya hadir dalam relasi dengan sesama (Mc Grath, 1997: 271). Maka hubungan perjanjian antara Allah-manusia juga mewarnai hubungan perjanjian antara suami-istri. Gagasan tentang hubungan suami-istri Kristen dan perjanjian Allah bertolak dari pemahaman bahwa Allah adalah Allah perjanjian dan umat adalah umat perjanjian.
Di dalam Kejadian 1:27 kata ish (laki-laki) dan isshah (perempuan) membedakan pria dan wanita untuk menggambarkan keunikan status manusia ciptaan Allah. Persekutuan laki-laki dan perempuan yang menjadi satu dalam kesatuan yang bersifat menyeluruh sehingga mereka menjadi intim dalam keterbukaan untuk berbagi pergumulan dan ketakutan sebagaimana mereka berbagi kegembiraan dan kemenangan (Olthuis, 1995: 566).

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kej. 1:27)

Kirchberger (2007: 287) mengemukakan bahwa manusia mendapat makna utama dalam kebersamaan karena diciptakan menurut citra Allah sehingga pada intinya manusia adalah manusia dialogal atau sosial. Artinya bahwa manusia menjadi utuh dalam kesatuannya dan dalam hubungan dengan pasangannya. Hal ini penting sebab hanya manusia membutuhkan cinta dari orang lain supaya ia bisa berkembang sebagai pribadi yang bisa mencintai dan membutuhkan cinta. Istilah "meninggalkan" dan "satu daging" di Kejadian 2: 24 menunjukkan terbentuknya hubungan dialogal dan sosial tersebut.
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kata "meninggalkan" (ya`azobh) mengekspresikan hal yang biasa dilakukan laki-laki yakni meninggalkan ayah dan ibu untuk membentuk sebuah keluarga yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan muda harus bergantung satu dengan yang lain dan kepada Allah untuk mengambil keputusan, dengan cara yang sama, pasangan itu harus menemukan sumber dukungan emosional di dalam diri pasangannya. Tanpa meninggalkan, mendirikan suatu kesatuan yang baru berada dalam bahaya (Saputra, 2005:84).
Seorang laki-laki yang meninggalkan dapat dipahami dalam kerangka kebersatuan yang total dan integral, menyeluruh dan menyangkut kehidupan seutuhnya. Apa yang dimaksud dengan satu daging? Bahasa Ibrani untuk satu daging adalah ekhad bassar artinya adalah satu tubuh, satu daging, satu aurat, satu kulit, bagian dari diriku, bagian dari kulitku. Maka, menjadi satu daging berarti sama-sama merasa senang jika disayang, tapi merasa sakit jika dilukai. Kata daging atau bassar mengindikasikan sesuatu yang mendasar tentang kemanusiaan (Richards, 1985: 282).
Hal ini berkaitan dengan mahluk hidup, relasi yang bersifat pribadi dan hubungan dalam keluarga yang sekaligus memperlihatkan kerapuhan manusia, demikian Richards (1985: 283).
Dalam konteks perkawinan maka menjadi satu daging menunjukkan adanya persekutuan yang intim dalam lembaga keluarga, adalah gambaran kesatuan secara badaniah dan rohani sebab kata bersatu menunjukan ikatan perkawinan yang Tuhan inginkan. Walaupun kata satu daging juga menunjuk pada kesatuan kegiatan seksual, namun artinya lebih dari itu. Saat Allah menciptakan laki-laki dan perempuan Allah menyatukan mereka dalam ikatan yang unik dan mendasar secara biologis dan rohani yang mencapai jiwa mereka yang paling dalam. Hubungan intim suami-istri bukanlah kegiatan seksual yang dibangun dengan pemahaman hak suami atau kewajiban istri dengan paksaan tetapi sebuah bentuk disiplin terhadap tubuh. Artinya semua keinginan daging harus berada dalam pengendalian yang sehat dan bermartabat serta bermuara pada pemenuhan keinginan bersama sebagai suami-istri. Ini jauh dari pengertian umum bahwa pernikahan hanya menyediakan seks yang sah bagi dua orang yang secara fisik saling tertarik. Tuhan menciptakan seks, tapi dia ingin hal itu menjadi suatu ekspresi yang indah dari kesatuan hati dan jiwa yang sudah ada. Jika kesatuan tidak ada, tindakan fisik tidak berarti, egois, dan eksploitasi.

Janji nikah yang diucapkan dalam ibadah merupakan janji yang dibangun berdasarkan hubungan perjanjian Allah dengan manusia. Janji suami-istri menemukan bentuknya yang istimewa dalam hubungan seksual yang didasarkan pada percaya dan bebas dari rasa takut (Mc Cluskey, 2004:90). Hubungan seksual suami-istri memerlukan syarat kematangan secara rohani dan hati yang mengasihi sebab tanpa itu hubungan seksual menjadi individualistik dan berorientasi pada kesenangan diri sendiri. Hubungan intim suami-istri bukanlah hubungan seksual yang dibangun dengan pemahaman hak suami atau kewajiban istri dengan paksaan tetapi sebuah bentuk disiplin terhadap tubuh. Artinya semua keinginan daging harus berada dalam pengendalian yang sehat dan bermartabat serta bermuara pada pemenuhan keinginan bersama sebagai suami-istri. Dalam konteks inilah sebuah perkawinan diposisikan sebagai tanggung jawab religius atau mitzvah (Mainlander, 1995: 72).

2. Tentang Perkawinan Sesama Jenis.
Perkawinan sesama jenis tetap menjadi kontroversi sebab di samping banyak yang menolak, tidak sedikit juga yang menerima. Terlepas dari kontroversi tersebut, informasi berikut menunjukkan bahwa arus perkawinan sejenis harus dipantau dengan sugguh-sungguh. Jauh sebelum Amerika melegalkan pernikahan sejenis, Belanda telah memulainya tahun 2001 lalu. Bahkan sejak tahun 1980, pembahasan mengenai hak-hak para homohuwelijk telah menjadi isu penting yang kerap disuarakan para aktivis gay di negeri Kincir Angin, di antaranya Henk Krol dan Gay Krant.
Dua tahun setelahnya, tepatnya 1 Juni 2003, langkah politik Belanda diikuti oleh negara tetangganya, Belgia. Berturut-turut kemudian, sejak 2005 hingga 2015, tercatat sudah ada 21 negara yang menempuh kebijakan progresif seperti Belanda dan Belgia: Spanyol dan Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia dan Swedia (2010), Portugal, Islandia, dan Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil, Inggris, Prancis, Selandia Baru, dan Uruguay (2013), Skotlandia dan Luxemburg (2014), hingga Finlandia, Slovenia, Irlandia, Meksiko, dan AS (2015). Pada tahun 2011, Perdana Menteri Belgia terpilih kala itu, Elio de Rupo, bahkan mengakui bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis.

2.1 Alasan mereka yang mendukung Perkawinan Sejenis ialah
"Homoseks adalah anugerah Allah . Ini merupakan salah satu argumen yang diberikan oleh Troy Perry, seorang pendeta gay yang telah dikeluarkan dari Gereja Pentakosta, yang berkata, "Allah mengasihi setiap orang, termasuk orang homoseks; Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; Ia menciptakan orang homoseks; oleh karena itu, homoseksualitas merupakan suatu "pemberian Allah".

Homoseksual bukanlah dosa yang mengakibatkan penghukuman dari Allah. Pendapat ini didasarkan atas anggapan bahwa hukuman yang diarahkan kepada pelaku penyimpangan seksual dalam surat-surat Paulus merupakan pendapat pribadi dari Paulus sendiri (1 Kor 7:25). Jadi pendapat Paulus yang menentang homoseksual tidaklah mengikat. Demikian juga dengan penafsiran atas Yesaya 56:5, bahwa sida-sida akan dimasukkan ke dalam kerajaan Allah.

Homoseksualitas adalah perilaku yang normal. Seorang teolog Indonesia yang mengatakan bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang wajar dan tidak bertentangan dengan Alkitab adalah Iohanes Rahmat. Dalam artikelnya ia mengatakan :

"Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual jika homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi genetik seksual seseorang dan jika perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang langgeng...
Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah binatang. Karena homoseksualitas pada binatang bukan timbul karena pola pergaulan yang tak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya kehidupan di Planet Bumi ini."
(freethinker)

Bertolak dari gagasan di atas nampak bahwa para penganut homoseksual mengakui bahwa mereka memerlukan pengakuan yang bertumpu pada argumentasi yang humanis. Pendekatan yang demikian secara implisit menunjukkan bahwa para penganut LGBT memiliki hak untuk menjalani gaya hidup mereka.

Ajaran Gereja tradisional tentang homoseksualitas adalah salah. Hal ini dikemukakan oleh seorang Profesor yang paling terkemuka, yaitu John Boswell melalui bukunya Christianity, Social; Tolerance and Homosexuality. Ia melancarkan argumen filosofis berdasarkan penelitian sejarah dalam usahanya untuk membuktikan bahwa ajaran gereja mengenai homoseksualitas saat ini adalah salah. Ia mengatakan bahwa homoseksual adalah perilaku yang normal.
Dan masih banyak lagi berbagai pendapat dan alasan dari pemikir Kristen sendiri yang membenarkan perilaku homoseksual. Mereka memandang bahwa homoseksual adalah perilaku yang wajar, normal, natural, anugerah Tuhan, tidak bertentangan dengan Alkitab, dsb.

2.2 Mereka Yang Menolak Perkawinan Homoseksualitas

Pertama-tama penolakan yang dilakukan oleh gereja arus utama (main stream) bertumpu pada hubungan perjanjian Allah dan Manusia. Hubungan perjanjian tersebut kudus dan itu berarti setiap bentuk lembaga perkawinan adalah kudus. Hal ini pula yang dikemukakan dengan gaya yang lain oleh Paulus, yakni seperti hubungan suami-istri (Ef. 5: 22-33)

Homoseksual ditentang oleh Tuhan
Praktik homoseksual tidak dapat dibenarkan Allah. Maka dari itu tetap salah jika seseorang mengatakan bahwa praktek homoseksual adalah akibat dari perkembangan zaman yang semakin modern, dimana ada alternatif untuk melakukan praktik homoseksual. Beberapa bagian Alkitab berikut menunjukkan bahwa homoseksualitas dilarang oleh Alkitab :
a) Kej 19:1-13: Dosa Sodom adalah dosa homoseksualitas. Kesimpulan ini diambil karena beberapa bukti, pertama, dalam pasal ini, kata Ibrani yadha berarti 'melakukan hubungan seksual`. Hal ini terlihat jelas ketika Lot menunjuk pada kedua anak perempuannya sebagai yang belum pernah "dijamah" laki-laki untuk meredakan emosi orang-orang Sodom. Tawaran anak-anak perempuan ini tentulah mempunyai konotasi seksual. Kedua, sepuluh dari dua belas kali kata yadha ini dipakai dalam Kitab Kejadian adalah menunjuk kepada hubungan seksual (lihat Kej 4:1,25). Ketiga, Yudas 7 mencatat dosa Sodom adalah dosa percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Tentulah 'ketakwajaran` ini menunjuk kepada dosa homoseksualitas masyarakat Sodom.
b) Imamat 18:22: melarang laki-laki bersetubuh dengan laki-laki. Secara lebih luas dan logis prinsip ini pastilah juga mencakup larangan terhadap persetubuhan antara perempuan dengan perempuan. Jadi ini mengindikasikan bahwa homoseksual sangat melanggar kekudusan, dan ditentang oleh Tuhan.
c) 1 Korintus 6:9-10: penelitian terhadap kata dalam bahasa Yunani malakoi (kata untuk banci) dan arsenokoitai (orang pemburit), menurut tradisi kedua kata ini dihubungkan dengan homoseksualitas. Kata-kata yang digunakan Paulus dalam 1 Korintus 6:9 sama juga dengan yang digunakan dalam 1 Timotius 1:10.
d) Roma 1:26-27: Alkitab mengatakan bahwa praktek homoseksualitas merupakan perwujudan nafsu yang memalukan, sesat dan mereka yang melakukannya dikatakan sedang melakukan kemesuman, sehingga mereka akan menerima balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Homoseksual adalah akibat dari kefasikan
Di bagian Alkitab dikatakan bahwa karena dosa dan kebebalan manusia, Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang tidak setimpal untuk kesesatan mereka (Rom 1:26-27).

3. Sikap Gereja Saat Ini.

Gereja perlu melihat permasalahan ini dengan baik sebab jika tidak diantisipasi gereja akan mengalami penumpulan. Penumpulan dalam bersikap bagi mereka yang menjalani kehidupan homo seksual. Gereja yang sungguh2 melayani adalah gereja yang 'membuka tangan` tanpa sifat permisif.

Hal yang paling penting adalah gereja memberi pengarahan kepada calon pasangan suami-istri untuk selalu menghayati peran mereka yang bertumpu pada 'tingkat derajat penyerahan diri`. Di samping itu kalau kita kembali pada hakikat perkawinan yang direncanakan Allah (Kej. 1:28) menunjukkan bahwa perilaku LGBT merupakan perlawanan terhadap rencana Allah yang lebih luas.

Sikap gereja yang menolak perilaku LGBT adalah sikap yang didasari pada pemahaman bahwa melawan kehendak Allah adalah melawan pada kebenaran-Nya, dan ini adalah arti dosa. Namun sekaligus gereja sebagai utusan Allah untuk mewartakan kabar baik, juga mewartakannya kepada setiap penganut LGBT.
Gereja sebagai persekutuan orang percaya memang memiliki tugas utama untuk mengasihi setiap orang berdosa.

Kesimpulan
Akhirnya yang menjadi pertanyaan mendasar tentang hal perkawinan sesama jenis dari perspektif Efesus 5:22-33. Dalam konteks inilah maka tantangan yang dihadapi oleh gereja dalam masalah perkawinan sesame jenis adalah tegas MENOLAKNYA namun merangkul dan mengasihi sesama.


Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Artikel:

Jumat, 10 Nopember 2017
YESUS MEMANG POPULER NAMUN TIDAK POPULIS

Selasa, 31 Oktober 2017
ILUSI, DELUSI DAN GPIB - Sebuah Refleksi Di Usia Ke-69

Rabu, 28 September 2016
PERANAN PASANGAN DALAM PELAYANAN GEREJA

Senin, 19 September 2016
REMBRANT, YESUS, KITA

Kamis, 25 Agustus 2016
MEMAKNAI PERAN SEKTOR PELAYANAN DALAM PERSPEKTIF KEBUTUHAN KELUARGA.

Kamis, 25 Agustus 2016
PERAN KELUARGA YANG MEWUJUDKAN MISI ALLAH DALAM PERSPEKTIF KEHADIRAN GEREJA

Jumat, 19 Februari 2016
GPIB DI TENGAH PERGUMULAN DAN TANTANGAN SOSIAL LOKAL HINGGA GLOBAL: PERSPEKTIF PASTORAL

Jumat, 11 Desember 2015
MEMPERLUAS MAKNA KEHADIRAN SUAMI-ISTRI

Jumat, 11 Desember 2015
10 Hukum Perkawinan Kristen

Selasa, 13 Oktober 2015
KEPEMIMPINAN KRISTEN

Arsip Artikel..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat Immanuel, Depok. Melayani selama 27 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Artikel:

    Last Searches:

    Kategori Utama: Artikel (39), Catatan Refleksi (68), Download Materi (2), Khotbah (151), Photo Keluarga (34)