AlexiusLetlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 6554 kali


Artikel
Rabu, 28 September 2016
Filipi 4:9
PERANAN PASANGAN DALAM PELAYANAN GEREJA
Pdt. Alex Letlora

PERANAN PASANGAN DALAM PELAYANAN GEREJA
Pendahuluan.

Pada setiap pelaksanaan pemilihan Penatua maupun Diaken dikemukakan syarat adminsitratif maupun kualitatif. Syarat kualitatif maupun administrative memiliki kepentingan yang sama yakni seorang Diaken atau Penatua haruslah pribadi yang memenuhi kualifikasi yang ditentukan untuk menjadi seorang pelayan di lingkungan jemaat. Hal ini berkaitan dengan panggilan dan pengutusan yang memiliki ruang lingkup istimewa sebab berhubungan dengan warga jemaat. Setiap lini kehidupan pelayanan Diaken atau Penatua bersentuhan dengan manusia lain agar mengalami pertumbuhan bersama dalam perspektif iman Kristen.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh upaya pemberdayaan Diaken atau Penatua hanya di sekitar pelaksanaan kegiatan pelayanan dan melupakan salah unsur penting yakni pasangan Diaken atau Penatua. Ketika kita tidak menukik pada masalah pasangan Diaken-Penatua maka kita sedang membangun pelayanan yang berbasis pada 'cosmetic ministry`. Sebuah pelayanan yang tidak natural sebab berorientasi pada tampilan pelayanan yang tidak terarah pada kehendak-Nya.

Harus kita akui bahwa dalam sebuah proses pemilihan Diaken-Penatua dimana pembinaan pasca peneguhan lebih berorientasi pada skill improvement of deacons or elders. Pembinaan kepada pasangan belum dipandang sebagai kebutuhan utama padahal apa yang terjadi di keluarga sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan, pastoral, mengemukakan pandangan (ide). Kita perlu memberi perhatian pada upaya melengkapi pasangan para pelayan sehingga berbagai persoalan dan pergumulan para diaken-penatua di pelayanan tidak menghasilkan distorsi peran di ruang pelayanan maupun keluarga.

Bertolak dari pernyataan Paulus di Filipi 4:9

Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Memperlihatkan bahwa pelayanan bukan hanya soal aktifitas verbal tetapi sekaligus merupakan tindakan yang menjadi contoh bagi setiap warga jemaat. Paulus dengan eksplisit menyatakan tiadanya jurang pemisah antara yang verbal dan aktual. Dalam perspektif pasangan para diaken-penatua sangat penting untuk menjaga kesimbangan antara yang teoritis dan praksis, antara yang lisan dan tindakan.

Bertolak dari pemahaman di atas maka dipandang perlu melengkapi setiap pasangan Diaken-Penatua. Melengkapi setiap pasangan Diaken-Penatua dalam konteks ini adalah mempersiapkan mereka untuk memasuki situasi baru, kenyataan yang baru, tantangan yang baru, kesempatan yang baru dan kegembiraan yang baru. Hal ini perlu agar panggilan dan pengutusan secara khusus di sekitar pelayanan bagi warga jemaat senantiasa diliputi dengan antusiasme. Muaranya adalah pelayanan para Diaken-Penatua yang menyegarkan, kreatif dan penuh sukacita bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja.


I. BAGI DIAKEN-PENATUA.

Keluarga sebagai sebuah lembaga adalah persekutuan suami-istri dan anak yang pada masa kini dihadapkan pada tantangan dengan kualitas yang semakin mencemaskan. Perubahan pandangan terhadap makna pernikahan Kristen turut berkontribusi terhadap perilaku suami maupun istri. Di sisi lain perubahan cara pandang terhadap lembaga pernikahan seringkali dianggap biasa sehingga tidak menjadi perhatian sampai terjadi prahara sebagai akumulasi tersumbatnya penyelesaian setiap masalah.

David M. Thomas mengemukakan bahwa persiapan menuju terbentuknya keluarga dan merawat tujuan bersama bukanlah hal yang mudah. Hal ini berkaitan faktor-faktor di sekitar keluarga yang turut memberi andil dan berujung pada semakin bertumbuhnya kualitas keluarga atau semakin rapuh. Penghayatan terhadap kebutuhan suami-istri yang saling melengkapi merupakan pondasi lembaga keluarga. Faktor ekonomi, pemahaman diri dan keterbukaan informasi adalah sebagian dari faktor yang dapat mengubah cara pandang suami-istri. Thomas bahkan menyebutkan kebebasan sebagai isu utama pada saat ini yang berimplikasi juga terhadap lembaga keluarga.
Artinya pengaruh dari kebebasan pada masalah ekonomi, kebebasan untuk mengekspresikan diri (khususnya perempuan/istri) merupakan kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Semua model kebebasan ini dapat berujung pada kebebasan untuk menentukan masa depan lembaga keluarga.

Dalam perspektif pelayanan para Diaken-Penatua diperlukan kematangan untuk bisa melibatkan pasangan. Hal ini penting sebab ketika keputusan untuk menjadi Diaken-Penatua adalah keputusan berdasarkan kemauan sendiri maka perjalanan pelayanan kedepan akan menemui masalah yang tidak mendapat solusi. Maka hal pertama yang harus dijelaskan oleh para Diaken-Penatua ialah posisi pasangan yang penting dalam menunjang pelayanan di jemaat. Mereka penting bukan supaya menjadi beban bagi diri tetapi mereka penting sebab menghadirkan sebuah perayaan dalam pelayanan.

Pasangan perlu mendapat apresiasi atas keterlibatan mereka secara tidak langsung dalam pelayanan dan sekaligus menegaskan bahwa keistimewaan posisi pasangan bukanlah penghalang tetapi penolong yang sepadan. Hal ini penting agar dipahami bahwa pasangan adalah juga warga jemaat sebagaimana warga jemaat lain. Jika pelayanan dilakukan dengan mengundang warga jemaat menanggapi karya Allah maka pasangan adalah bagian dari warga jemaat yang ingin memberi tanggapan atas karya Allah.

Maka beberapa hal yang perlu mendapat perhatian para Diaken-Penatua adalah:

a. Pasangan Adalah Penopang Yang Dianugerahkan Allah.

Para Diaken-Penatua perlu memahami bahwa pasangan menanggung beban yang tidak ringan. Pasangan menempati posisi yang turut memberi andil bagi terlaksananya pelayanan secara baik. Miller bahkan mengemukakan bahwa anggota keluarga adalah system kecil dari system keluarga yang lebih besar yakni jemaat. Bertolak dari pemahaman demikian maka keterlibatan pasangan bukanlah secara mekanis tetapi didasarkan pada kebebasan menanggapi karya Allah.

Peran dan fungsi sebagai Diaken-Penatua akan disambut oleh pasangan dengan rasa syukur untuk turut merayakan pelayanan. Pengabdian suami atau istri dari Diaken-Penatua adalah pengabdian kepada Allah, maka lembaga keluarga yang diciptakan oleh Allah akan semakin bertumbuh seiring dengan pertumbuhan pelayanan para Daiken-Penatua.

b. Pasangan Adalah Perawat Yang Membebaskan.

Rangkaian pelayanan yang dilakukan Diaken-Penatua tidak sedikit yang berhadapan tantangan yang berbenturan dengan kelelahan secara psikis. Sebuah keadaan yang menggerus diri seseorang secara mental ketika pelayanan berjumpa dengan mereka yang tersingkir (marginal) dan mereka yang mengalami penyakit stadium akhir.

Ketika kembali ke rumah, seorang Diaken atau Penatua memerlukan 'pemulihan` yang akan meneguhkannya untuk pelayanan kedepan. Di rumah (keluarga) akan terjadi pemulihan yang diwujudkan oleh pasangan. Pemulihan yang diwujudkan melalui kesediaan untuk 'menerima` yang dilakukan oleh pasangan. Artinya pasangan tidak merendahkan kelelahan psikis yang dialami dan mengabaikannya begitu saja.

Pemulihan yang dialami di rumah merupakan akumulasi dari hubungan yang saling menerima dengan pasangan. Sebuah keadaan yang memungkinkan Diaken-Penatua dapat melanjutkan pelayanannya kembali. Menurut Rottschafer hal ini bertolak dari tanggungjawab bersama untuk saling menerima dan memberi.

Maka kehadiran pasangan sebagai perawat turut ditentukan oleh pemahaman Diaken-Penatua tentang makna memberi dan menerima berdasarkan kasih yang tidak bersifat transaksional.


II. BAGI PASANGAN DIAKEN-PENATUA

Pasangan para pelayan adalah mereka yang turut dilibatkan dalam rangkaian pelayanan di jemaat. Setiap bentuk pelayanan yang dilaksanakan memerlukan dukungan yang konstruktif dari pasangan. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pelayanan di jemaat kadangkala terganggu bahkan ternoda oleh perilaku pasangan. Bertolak dari pemahaman diatas maka perlu dikemukakan hal-hal sebagai berikut kepada setiap pasangan.

a. Memahami Diri Sebagai Pendamping Pelayan.

Pelayanan yang baik senantiasa mendapat dukungan dari keluarga dan dalam hal ini adalah pasangan. Maka sebagai pasangan dari Diaken-Penatua perlu memahami ruang pelayanan yang dilakukan. Artinya setiap suami atau istri Diaken-Penatua perlu memiliki kesadaran bahwa Tuhan menempatkan dirinya sebagai pasangan dari seorang pelayan yang memahami bahwa kemungkinan datangnya masalah dan tekanan dapat membuatnya putus asa. Tekanan bisa hadir dalam bentuk harapan yang melampaui diri dalam perspektif 'glass house syndrome`.

Maka setiap pasangan dari Diaken-Penatua perlu memiliki kematangan rohani yang diperlihatkan melalui tugas yang menjaga keseimbangan dan merawat. Untuk itu suami atau istri perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

- Senantiasa menjaga diri dari sikap yang tidak terhormat (1. Tim.3:11)
- Menghormati pelayanan dan menyatakan kebaikan (Fil. 4:5)
- Penguasaan diri (1 Korintus 9: 24-27)

Kehadiran sebagai pasangan dari para pelayanan akan menumbuhkan kesadaran bahwa pelayan di tengah jemaat bukanlah kompetisi bahkan rivalitas dari keluarga tetapi dapat saling mengisi dan saling menopang.

b. Menjaga Kualitas Relasi Suami-Istri.

Suami-istri adalah pasangan yang hidup dalam hubungan perjanjian vertical maupun horizontal. Hubungan perjanjian suami-istri memperoleh bentuk terbaiknya dalam perjalanan mereka membina dan merawat kehidupan lembaga keluarga. Hal ini penting sebab konflik dalam keluarga bisa terjadi dan menggerus kualitas hidup suami-istri.

Dalam perspektif iman Kristen perlu dipahami terlebih dahulu tujuan dari sebuah perkawinan. Perkawinan Kristen diimani sebagai tindakan Allah membangun sebuah keluarga dalam kerangka mewujudkan rencana-Nya bagi dunia yakni untuk merawat dan mengurusnya (Kej. 1: 26.28). Maka didalamnya suami-istri membangun relasi yang semakin berkualitas dalam kerangka mewujudkan mandat yang dipercayakan.

Kualitas relasi suami-istri sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yakni: kemampuan mereduksi konflik, kemampuan menghindari 'insecure personality syndrome`, dan membangun komunikasi yang sehat. Relasi suami-istri yang berkualitas akan memengaruhi kualitas pelayanan di jemaat. Maka tidak dapat diabaikan pentingnya kehadiran pasangan dalam kegiatan para Diaken-Penatua.

III. Kesimpulan Dan Saran

Pelayanan di jemaat memiliki keistimewaan yang bertolak dari pengakuan bahwa pelayanan tersebut adalah tanggapan atas karya Allah. Pelayanan yang berlangsung untuk memberitakan kabar sukacita senantiasa bermuara pada kesatuan kata dan karya. Maka pelayanan para Diaken dan Penatua secara kualitas menemukan dorongan (impulse) yang konstruktif di tengah keluarga.

Pasangan setiap Diaken-Penatua perlu memahami bahwa keterlibatan dalam pelayanan tidak sederhana jika menilik tugas dan tanggung jawab Diaken atau Penatua. Kematangan secara rohani sangat berdampak pada kualitas pelayanan di jemaat.

Bertolak dari pemahaman demikian maka perlu disarankan dalam proses pemilihan Diaken-Penatua juga dilakukan pendampingan dan pembinaan kepada pasangan. Secara strategis hal tersebut dapat menjadi bagian dari pembinaan pasca peneguhan dan secara sistematis disepanjang rentang waktu pelayanan.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya, jerih lelah kita tidak sia-sia.




Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Artikel:

Jumat, 10 Nopember 2017
YESUS MEMANG POPULER NAMUN TIDAK POPULIS

Selasa, 31 Oktober 2017
ILUSI, DELUSI DAN GPIB - Sebuah Refleksi Di Usia Ke-69

Senin, 19 September 2016
REMBRANT, YESUS, KITA

Kamis, 25 Agustus 2016
MEMAKNAI PERAN SEKTOR PELAYANAN DALAM PERSPEKTIF KEBUTUHAN KELUARGA.

Kamis, 25 Agustus 2016
PERAN KELUARGA YANG MEWUJUDKAN MISI ALLAH DALAM PERSPEKTIF KEHADIRAN GEREJA

Kamis, 02 Juni 2016
LGBT DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Jumat, 19 Februari 2016
GPIB DI TENGAH PERGUMULAN DAN TANTANGAN SOSIAL LOKAL HINGGA GLOBAL: PERSPEKTIF PASTORAL

Jumat, 11 Desember 2015
MEMPERLUAS MAKNA KEHADIRAN SUAMI-ISTRI

Jumat, 11 Desember 2015
10 Hukum Perkawinan Kristen

Selasa, 13 Oktober 2015
KEPEMIMPINAN KRISTEN

Arsip Artikel..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat Immanuel, Depok. Melayani selama 27 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Artikel:

    Last Searches:

    Kategori Utama: Artikel (39), Catatan Refleksi (68), Download Materi (2), Khotbah (151), Photo Keluarga (34)