AlexiusLetlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 48 kali


Catatan Refleksi
Jumat, 10 Nopember 2017
2Kor.4:7
DUNIA PASCA FAKTA DAN DELUSI MASA KINI (Refleksi Hari Pahlawan Nasional)
Pdt. Alex Letlora

DUNIA PASCA FAKTA DAN DELUSI MASA KINI (Refleksi Hari Pahlawan Nasional)


Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia adalah peristiwa 10 November 1945 yang merupakan peristiwa penting pasca Proklamasi. Sebuah peristiwa yang hendak menegaskan kedaulatan Indonesia dan memunculkan tokoh Bung Tomo atau Soetomo dengan pidato yang membakar semangat. Pada peristiwa 10 November nilai diri bangsa Indonesia sedang bergelora dan berpengaruh terhadap rasa percaya diri yang tinggi. Korban 16.000 orang di pihak rakyat pejuang tidaklah menurunkan nilai diri mereka dibanding 2000 tentara Inggris. Nilai diri (self value) yang membukan ruang untuk hadir dalam kebersamaan yang kokoh sekalipun beragam.

Berbagai praktek intoleransi yang terjadi belakangan ini sangat dipengaruhi oleh politik populis yang memanfaatkan asa publik untuk mencapai keinginan. Dengan mempertajam berbagai isu keberagaman maka publik berhadapan dengan pilihan-pilihan yang absurb dan irrasional. Diperlukan perubahan yang fundamental untuk mengatasi intoleransi yang hadir di berbagai bentuk dan mereduksi nilai kemanusiaan dengan mengedepankan sentimen rasisme, diskrimatif dan kebencian.

Menurut saya dua hal penting yang perlu menjadi perhatian adalah:

1. Kita hidup di dunia pasca aksara. Ketika tehnologi menjadi sarana pendekat dan bukan perekat maka hadirlah kegamangan sosial yang diwarnai dengan berita hoax. Bad News Is A Good News telah menjadi konsumsi publik yang diterima tanpa telaah kritis. Ketika ‘bicara’ tidak lagi dengan mulut tetapi dengan jari pada tangan kita maka dengan segera kita berada pada berbagai asumsi yang destruktif sebab tidak bertemu dalam pandangan yang sejuk dan tatapan yang hangat. Dunia seperti ini adalah lahan subur berkembangnya intoleransi yang perlu dijawab dengan semangat toleransi sebagaimana dikemukakan oleh Rainer Forst (dalam Reza Wattimena) demikian bahwa terdapat empat tingkatan toleransi dan setiap tingkat berpijak pada tingkatan yang lain. Forst mengemukakan bahwa tingkatan pertama adalag ‘sekedar membiarkan ada’ (Erlaubnis) pada tingkatan ini masih terasa suasana intoleransi, kemudian ‘berada bersama’ (Koexistenz) dimana terjadi hubungan yang setara dan beradab.

Ketiga adalah toleransi yang berpijak pada rasa hormat (Achtung) dimana satu sama lain setara dalam hal moral dan budaya. Tingkat tertinggi adalah pengakuan dan penghargaan terhadap berbagai keragaman termasuk cara pandang dalam bidang agama, politik, ekonomi.

Berpijak pada pemikiran di atas maka dapat dikemukakan bahwa toleransi harus bergerak aktif antara yang normatif dan rekayasa (natural and by design). Dalam perspektif hari pahlawan nasional maka dapat dikemukakan bahwa hanya dalam toleransi pada level yang tinggi, semua anggota keluarga yang berdiam di rumah besar bernama Indonesia telah berperan mencapai kemerdekaan.

Hal kedua yang perlu menjadi perhatian adalah delusi masa kini. Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti. Gangguan delusi dapat terjadi pada siapa saja dengan beberapa kondisi tertentu, tanpa mestinya adanya gejala yang menunjukkan skizofrenia atau gangguan otak. Maka manusia yang terseret oleh arus kuat delusi akan mengakibatkan kesalahpahaman seseorang yang serius tentang apa yang terjadi. Dengan kata lain, kesalahpahaman tentang apa yang mereka lihat, dengar, atau pikir menjadi tidak rasional dan tidak realistis yang sangat sulit untuk berubah, bahkan ketika orang itu dihadapkan pada bukti yang bertentangan dengan khayalannya. Orang awam biasanya menganggap delusi sebagai “paranoid” di mana orang yang delusi merasa curiga berlebihan dan terus-menerus terhadap konspirator yang “akan mencelakainya”. Manusia dengan delusi akut tidak akan menerima kebenaran sekalipun dengan bukti-bukti. Diperlukan kepekaan untuk bisa mengetahui ‘penyakit’ yang berpotensi menumbuhkan intoleransi.

Maka terbaik untuk memajukan toleransi adalah dengan terus menerus menyuarakan good news, penguraian pokok pikiran yang menjangkau masyarakat perlu terus dilakukan yakni dengan pemahaman tentang self value yang sehat. Mark Twain mengemukan demikian bahwa : ‘there are two most important days in life. first the day we are born, and second, they day we find out why.
Selamat merayakan keragaman dalam kehangatan sebagai keluarga dalam rumah besar bernama Indonesia.


Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Catatan Refleksi:

Rabu Maret 2017
LUPAKAN YERIKHO, TAKLUK DI AI

Jumat, 10 Februari 2017
SUAMI-ISTRI MERAWAT ASA MENUAI KUASA

Jumat, 10 Februari 2017
HIDUP ADALAH SOAL FOKUS DAN KONSISTEN

Jumat, 10 Februari 2017
MASIH ADA ALLAH

Rabu, 23 Nopember 2016
KETELADANAN PAULUS

Kamis, 14 April 2016
KASIH MEMPERKAYA SESAMA

Kamis, 14 April 2016
JANJI YANG DITEPATI

Selasa, 12 April 2016
BERTOBATLAH

Selasa, 12 April 2016
HIKMAT ADALAH TULANG PUNGGUNG KEHIDUPAN

Senin, 08 Februari 2016
MELALUI PERSAUDARAAN YANG KOKOH KITA WUJUDKAN SOLIDARITAS ANTAR SESAMA MELAWAN KETIDAK-ADILAN

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat Immanuel, Depok. Melayani selama 27 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Catatan Refleksi:
Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (39), Catatan Refleksi (68), Download Materi (2), Khotbah (148), Photo Keluarga (34)