AlexiusLetlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 81 kali


Artikel
Rabu, 07 Februari 2018
ROMA 12:2
PERUBAHAN RELASI SUAMI-ISTRI(dalam perspektif koseling-pastoral)
Pdt. Alexius Letlora

PERUBAHAN RELASI SUAMI-ISTRI(dalam perspektif koseling-pastoral)
Karl Rahner argues that "we are not saying that the family is "like' the church, or that is "part' of the church. The family "is' the church in that it is a genuinely ecclesial expression of God's presence among specific communities of people.(London:Harder, 1965,293)

Pendahuluan.

Pernyataan Rahner dalam kaitannya dengan perubahan relasi suami-istri memuculkan pemahaman bahwa perubahan merupakan kenyataan sebagaimana ikatan persekutuan berdasarkan janji suami-istri. Perubahan paradigmatik yang dialami masyarakat modern berdampak juga pada relasi suami-istri dan hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat diabaikan.

Pengaruh industrialisasi telah menghadirkan suami-istri yang lebih mandiri atau disebut dengan keluarga konjugal yakni keluarga batih yang semakin terlepas dari kerabat luas pihak suami atau istri juga dalam masalah ekonomi dan tempat tinggal (Ihromi,1999:287). Perubahan ini telah menumbuhkan kesadaran pada setiap individu untuk mengembangkan diri dan profesinya secara maksimal. Maka ketergantungan istri terhadap suami tidak lagi menjadi sesuatu yang mutlak, istri tidak lagi harus bersikap menerima saja keputusan suami tetapi istri juga dapat mengambil keputusan karena istri juga berhak atas kebahagiaan dari perkawinannya.

Melalui apa yang telah dikemukakan di atas nampak bahwa kehidupan perkawinan telah berjumpa dengan situasi yang sangat berubah. Perubahan mendasar ini telah memberi kontribusi bagi berkembangnya kesadaran akan keberadaan diri suami-istri. Adanya pergeseran orientasi utama perkawinan untuk membentuk keluarga dan kebahagiaan anak-anak kepada orientasi kebahagiaan hubungan pasangan suami istri dalam perkawinan memberi warna dan pemikiran baru bagi perempuan dalam pemahaman nilai perkawinan.

Pergumulan Keluarga Adalah Pergumulan Gereja

Dewasa ini keluarga diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang bisa menggugat keberadaan keluarga tersebut. Perkembangan dunia virtual dengan segala akibatnya adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Ketika manusia sibuk dengan dirinya sendiri sebagai akibat perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh gereja. Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memerlukan pola pelayanan yang mengarah pada penguatan peran secara aktual. Artinya keluarga sebagai bagian dari masyarakat adalah warga gereja yang terus menerus berjumpa dalam "ketegangan' untuk mewujudkan panggilan dan pengutusan dan realitas dunia yang tidak sejajar dengan hal tersebut.



Kebutuhan akan perhatian menjadi paradoks di tengah-tengah masyarakat yang semakin invidual dimana kepedulian menjadi langka ditengah-tengah egoisme yang mencuat. Kalau secara mendasar ini terjadi akibat dari perubahan cara pandang maka pernikahan dewasa ini tidak lagi menjadi suatu kebahagiaan karena kemenangan atas tantangan dan pergumulan tetapi kebahagiaan yang dibangun dalam hubungan transaksional dan tidak memiliki pondasi kokoh. Narasi tentang membangun rumah diatas pasir atau batu menjadi gambaran yang aktual tentang perlunya pondasi yang kokoh dalam relasi suami-istri. Bertolak dari gambaran diatas perlu dikemukakan bahwa pesoalan-persoalan yang digumuli oleh gereja dalam panggilan dan pengutusannya juga bersentuhan dengan kebutuhan aktual dalam keluarga. Maksudnya ialah fungsi dan peran gereja yang senantiasa mengarah kepada pembangunan jemaat agar dapat memberitakan kabar sukacita tetap memiliki basis pada keluarga. Pernyataan Dietrich Bonhoeffer bahwa perkawinan tidak hanya bersifat personal tetapi menyandang tugas yang diberikan oleh Allah dapat menjadi dasar dari tindakan pendampingan dan konseling pastoral yang dilakukan oleh gereja (Richard P. Olson, 1990:8)

Sejarah menunjukkan bahwa isu penting tentang keluarga mengalami perubahan makna yang signifikan sebagai akibat dari perubahan perspektif terhadap narasi kitab suci. Selain itu dalam beberapa hal tertentu keluarga membantu mengembangkan masyarakat melalui aneka bakat dan kemampuan setiap anggotanya. Sebaliknya masyarakat mesti menghormati keluarga sebagai bagian terkecil dari strukturnya. Keluarga menjadi sebuah tempat awal pembentukan seorang pribadi sebelum terjun dalam masyarakat.



Secara ideal suami-istri Kristen senantiasa memiliki peluang yang besar untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai "reclaiming the design". Maksudnya ialah suami-istri yang memahami bahwa kehadiran mereka sebagai pasangan dari waktu ke waktu semakin meluas. Luas dalam interaksi, maksudnya terjadi perubahan susunan orang yang dikenal, ada yang baru, ada yang pergi. Di sisi lain semakin luas juga cakupan mobilitas suami-istri karena kesejajaran laki-laki dan perempuan. Artinya setiap suami-istri dimungkinkan untuk terus mengembangkan talentanya, kemampuannya sebagai bentuk jawaban atau tanggapan kepada-Nya.

Menurut Eben NT perubahan yang terjadi meliputi:

1. Perubahan person melalui hadirnya orang baru dan hilangnya orang lama. ‘Orang’ baru bisa juga mereka yang masuk ke rumah melalui media komunikasi massa. Dampak postif ialah menjadi persekutuan yang unik dalam interaksi sosial yang terjadi dimana suami-istri berperan secara baik sehingga dapat berperan dalam masyarakat yang multy kultural



2. Perubahan relasi kekuasaan, otoritas dan komunikasi dimana kebenaran, kekudusan tidak bersifat didatorial (didiktekan) namun bersifat diskursif (disepakati bersama). Relasi suami-istri Suami-istri perlu meyakini dan secara jelas memahami bahwa mereka berada dalam relasi perjanjian dengan Allah. Hal ini penting agar suami-istri selalu ingat bahwa Allah membentuk pasangan yang diberkati untuk memenuhi rencana-Nya yakni menyatakan damai sejahtera. Hal itu berarti setiap suami-istri meyakini bahwa secara pribadi ia diutus Allah bagi pasangannya (band. Titus 2: 14, .... rajin berbuat baik).

3. Perubahan fungsi dalam struktur ketika rumah tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar tetapi hanya sekedar tempat tinggal. Secara positif hal ini berdampak pada perubahan peran sebagai pencari nafkah sehingga ekonomi berubah dan dapat bersosialisasi aktif dengan lingkungan. Pemenuhan ekonomi tidak bertumpu hanya pada suami tetapi juga istri. Hal yang perlu diwaspadai ialah bergeraknya nilai humanisme ke materialisme.



Bertolak dari kenyataan bahwa perubahan tidak terhindarkan maka sangat diperlukan pertumbuhan kualitas relasi suami-istri. Suami-istri dalam persekutuan intim yang hidup dalam pernikahan adalah yang paling dekat dan paling intim dari persahabatan manusia. Hal ini melibatkan penyerahan seluruh kehidupan seseorang dengan suami / istri. Pernikahan menjadi panggilan untuk penyerahan diri yang begitu intim dan lengkap dengan pasangan - tanpa kehilangan individualitas mereka - menjadi "satu," tidak hanya di tubuh, tetapi dalam jiwa. Kehormatan nama Allah dalam banyak hal, tercermin dalam hidup Anda (Roma 2:24). Karena kita diciptakan menurut gambar-Nya, dan Kristus telah memulihkan kerusakan yang dilakukan oleh dosa. Jadi pernikahan apakah disadari atau tidak dimaksudkan untuk mengungkapkan sifat Allah kepada dunia. Dan ketika orang Kristen menyadari bahwa pernikahan mereka adalah saksi dunia kemuliaan Allah dalam aspek yang paling mendasar dari sifat-Nya, dan ketika mereka berusaha untuk menegakkan citra dengan memenuhi kewajiban perjanjian mereka satu sama lain, mereka memuliakan Allah dan menerima semua berkat yang dijanjikan-Nya.

Dengan pemahaman yang demikian maka ketegangan antara yang idealis dan aktual dapat terus menjadi perhatian keluarga. Keluarga tidak hadir dengan rencananya sendiri namun selalu mewujudkan rencana Allah. Kirchberger (2007: 287) mengemukakan bahwa manusia mendapat makna utama dalam kebersamaan karena diciptakan menurut citra Allah sehingga pada intinya manusia adalah manusia dialogal atau sosial. Artinya bahwa manusia menjadi utuh dalam kesatuannya dan dalam hubungan dengan pasangannya. Hal ini penting sebab hanya manusia membutuhkan cinta dari orang lain supaya ia bisa berkembang sebagai pribadi yang bisa mencintai dan membutuhkan cinta.

Kualitas relasi suami-istri sangat ditentukan oleh tinggi atau rendahnya derajat penyerahan. Dalam hal ini peyerahan diri tidak dilihat sebagai korban tetapi sebagai persembahan. Artinya relasi suami-istri menjadi bentuk nyata dari derajat penyerahan (Kej.2:22). Kualitas relasi suami-istri yang demikian adalah suami-istri yang sadar bahwa bisa saja terjadi, tetapi konflik yang sehat semakin mencerdaskan pasangan. Kecerdasan dalam setiap konflik akan menghasilkan pribadi yang mampu mewujudkan "turning war into peace". Life"s greatest meaning is not found in getting but in giving. Komitmen suami-istri tidak dibangun dengan pemahaman "owner property". Pasangan adalah individu dan bukan property sehingga tidak pantas diperlakukan sebagai "sesuatu" dan bukan "seseorang". Artinya setiap pasangan saling melayani dan memahami keunikan yang dimiliki.

Penutup

Peran gereja melalui karya pastoral yang sifatnya mendampingi suami-istri untuk menemukan jawaban atas perjalanan mereka sebagai keluarga yang bermartabat di tengah kenyataan yang menantang. Gereja perlu dengan serius memahami terjadinya perubahan dan membangun penyesuaian (bukan permisif) agar nilai-nilai sebagai suami-istri Kristiani tetap aktual.


Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Artikel:

Jumat, 10 Nopember 2017
YESUS MEMANG POPULER NAMUN TIDAK POPULIS

Selasa, 31 Oktober 2017
ILUSI, DELUSI DAN GPIB - Sebuah Refleksi Di Usia Ke-69

Rabu, 28 September 2016
PERANAN PASANGAN DALAM PELAYANAN GEREJA

Senin, 19 September 2016
REMBRANT, YESUS, KITA

Kamis, 25 Agustus 2016
MEMAKNAI PERAN SEKTOR PELAYANAN DALAM PERSPEKTIF KEBUTUHAN KELUARGA.

Kamis, 25 Agustus 2016
PERAN KELUARGA YANG MEWUJUDKAN MISI ALLAH DALAM PERSPEKTIF KEHADIRAN GEREJA

Kamis, 02 Juni 2016
LGBT DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Jumat, 19 Februari 2016
GPIB DI TENGAH PERGUMULAN DAN TANTANGAN SOSIAL LOKAL HINGGA GLOBAL: PERSPEKTIF PASTORAL

Jumat, 11 Desember 2015
MEMPERLUAS MAKNA KEHADIRAN SUAMI-ISTRI

Jumat, 11 Desember 2015
10 Hukum Perkawinan Kristen

Arsip Artikel..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat Immanuel, Depok. Melayani selama 27 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Artikel:

    Last Searches:

    Kategori Utama: Artikel (40), Catatan Refleksi (68), Download Materi (2), Khotbah (153), Photo Keluarga (34)